Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan

On Minggu, 23 Oktober 2011 0 komentar

Pertumbuhan penduduk yang semakin cepat tentunya mendorong pertumbuhan berbagai aspek-aspek kehidupan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan lain-lain. Adapun akibat dari perkembangan ini, telah mengubah cara berpikir manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah penduduk khususnya. Misalnya dengan bertambahnya penduduk tidak dapat diimbangi dengan pertambahan fasilitas, maka akan menimbulkan banyak  masalah, contohnya angka pengangguran yang semakin  bertambah tinggi, meningkatnya angka kemiskinan, banyaknya anak usia sekolah yang tidak tertampung sehingga timbul sebuah kejahatan atau kriminalitas lain dalam hal tersebut.
Perkembangan jumlah penduduk dunia sejak tahun 1830 sampai sekarang dan perkiraan sampai tahuun 2006 adalah sebagai berikut :
Perkembangan penduduk dunia tahun 1830 – 2006
Tahun
Jumlah penduduk
Perkembangan pertahun
1830
1 milyard
-
1930
2 milyard
1%
1960
3 milyard
1,7%
1975
4 milyard
2,2%
1987
5 milyard
2%
1996
6 milyard
2%
2006
7 milyard
2%
Sumber : Iskandar , Does Sampurno Masalah Pertambahan Penduduk di Indonesia
Jika dilihat dari tabel diatas pertumbuhan penduduk semakin cepat. Sebanding dengan penggandaan penduduk (double population) jangka waktunya pun makin singkat. Bertambah cepatnya penggandaan penduduk tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Penggandaan penduduk
Tahun penggandaan
Perkiraan penduduk dunia
Waktu
800 SM
5 juta
-
1650 tahun
500 juta
1500
1830 tahun
1 milyard
180
1930 tahun
2 milyard
100
1975 tahun
4 milyard
45
Sumber : Ehrlich, Paul, R, et al, Human Ecology W.H. Freeman and Co San Fransisco.
Waktu penggandaan penduduk dunia selanjutnya diperkirakan 35 tahun.

Penambahan atau pertambahan penduduk di suatu daerah atau Negara pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor  demografi  sebagai berikut :
  1. Kematian (Mortalitas)
Ada beberapa tingkat kematian akan tetapi di sini hanya dijelaskan dua jenis tingkat kematian saja yakni:
a. Tingkat kematian kasar (Crude Death Rate / CDR)
Tingkat kematian kasar adalah banyaknya orang yang meninggal pada suatu tahun perjumlah penduduk pertengahan di tahun tersebut. Secara dinyatakan tiap 1000 orang. Sehingga dapat 
dituliskan dengan rumus:

CDR = (D/P)*K

D = jumlah kematian
P = jumlah penduduk pertengahan tahun
K = Konstanta = 1000

b. Tingkat kematian khusus (Age Specific Death Rate)
Tingkat kematian ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain umur, jenis kelamin, dan pekerjaan. Karena perbedaan resiko kematian tersebut, maka digunakan tingkat kematian menurut umur (specific death rate). Dengan ini dapat menunjukan hasil yang lebih teliti, dan oleh karena itu dibuat rumus sebagai berikut :

ASDR = (D1/P)*K

D1 = kematian penduduk kelompok umur 1
P    = jumlah penduduk pada pertengahan tahun kelompok umur 1
K =konstanta = 1000
  1. Kelahiran (Fertilitas)
Pengukuran fertilisasi tidak sederhana dalam pengukuran mortalitas, hal ini disebabkan adanya alasan sebagai berikut :
1.  Sulitnya memperoleh data statistik lahir hidup karena banyaknya bayi yang meninggal beberapa saat setelah kelahiran
2. Wanita mempunyai kemungkinan melahirkan dari seorang anak (tetapi meninggal hanya sekali)
3. Semakin tua umur wanita tidaklah berarti, sehingga kemungkinan memiliki anak makin menurun
4. Di dalam pengukuran fertilitas akan melibatkan satu orang saja

Ada dua istilah asing yang kedua-duanya diterjemahkan sebagai kesuburan.

1.   Fecundity (kesuburan)
Fecundity lebih diartikan sebagai kemampuan biologis wanita untuk mampunyai anak.

2.   Fertility (fertilitas)
Fertility adalah jumlah kelahiran hidup dari seorang wanita atau kelompok wanita. Tinggi rendahnya kelahiran dalam suatu penduduk, erat hubungannya dan tergantung pada : struktur umur, penggunaan alat kontrasepsi, pengangguran, tingkat pendidikan, status pekerjaan wanita serta, pembangunan ekonomi. Tingkat kelahiran ini terbagi menjadi tiga macam.
Tingkat kelahiran kasar (Crude Rate Birth/CBR). Tingkat kelahiran kasar adalah jumlah kelaahiran hidup pada suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun tersebut. Sehingga dapat dituliskan dengan rumus :

                                                            CBR = (B/ P)*K

                 B = jumlah kelahiran hidup pada suatu dunia pada suatu tahun tertentu
                 P  = jumlah penduduk pada pertengahan tahun
                 K = Konstanta = 1000

Angka kelahiran umum (General Fertility Rate/GFR). Angka kelahiran umum adalah angka yang menunjukan jumlah kelahiran per 1000 wanita usia produktif. Jadi untuk menghitung angka kelahiran ini diperlukan jumlah penduduk wanita usia produktif. Sehingga dapat dituliskan dengan rumus :
GFR = (B/ Fm)*K
     B = jumlah kelahiran hidup suatu daerah pada suatu tahun tertentu
     Fm = jumlah penduduk wanita pada pertengahan tahun
     K = konstanta = 1000
Tingkat kelahiran khusus (Age Specific Fertility Rate/ASFR). Tingkat kelahiran khusus menunjukkan banyaknya kelahiran menurut umur dari wanita yang berada dalam kelompok usia produktif. Ukuran ini lebih baik daripada ukuran diatas. Jadi kalau dituliskan dengan rumus adalah sebagai berikut :
ASFR = (B1/Fm)*K                                                   
     B1 = jumlah kelahiran dari wanita kelompok umur 1 tahun
     Fm = jumlah penduduk wanita pada pertengahan tahun dalam kelompok umur 1
           K = konstanta = 1000
  1. Migrasi
Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif (migrasi internal) atau batas politik/negara (migrasi internasional). Dengan kata lain, migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah (negara) ke daerah (negara) lain.
a.       Macam-macam migrasi.
1.      Migrasi Internasional, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain.
2.      Migrasi Internal, yaitu perpindahan yang terjadi dalam satu negara, misalnya antarpropinsi, antar kota/kabupaten, migrasi perdesaan ke perkotaan atau satuan administratif lainnya yang lebih rendah daripada tingkat kabupaten, seperti kecamatan, kelurahan dan seterusnya.
3.      Migrasi masuk, yaitu masuknya penduduk ke daerah suatu tujuan.
4.      Migrasi keluar, yaitu perpindahan penduduk yang keluar dari daerah asalnya.
5.      Migrasi neto, yaitu selisih antara jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar.
6.      Migrasi bruto, yaitu jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar.
7.      Migrasi total, merupakan seluruh kejadian migrasi yang mencakup migrasi semasa hidup dan migrasi pulang.
8.      Migrasi semasa hidup, yaitu migrasi berdasarkan tempat kelahiran (bagi mereka yang pada waktu pencacahan sensus bertempat tinggal di daerah yang berbeda dengan daerah tempat kelahirannya).
9.      Migrasi parsial, yaitu jumlah migran ke suatu daerah tujuan dari daerah asalnya.
10.  Arus migrasi, yaitu banyaknya perpindahan yang terjadi dari daerah asal ke suatu daerah tujuan dalam jangka waktu tertentu.
11.  Urbanisasi, yaitu proses perpindahan penduduk dari desa ke kota.
12.  Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari suatu daerah untuk menetap di daerah lain guna kepentingan pembangunan Negara atau karena alasan-alasan yang dipandang perlu oleh pemerintah berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang.  
13. Mobilitas penduduk yang tidak bersifat menetap;
a. Migrasi sirkuler atau migrasi musiman, yakni migrasi yang terjadi jika seseorang berpindah tempat tetapi tidak bermaksud menetap di tempat tujuan.
b. Migrasi ulang-alik (commuter), yakni orang yang setiap hari meninggalkan tempat tinggalnya pergi ke kota lain untuk bekerja atau berdagang dan sebagainya tetapi pulang pada sore harinya.
     
b.      Proses Migrasi
Model kaitan mekanisme migrasi dari Lee.
0 + 0 – 0 + 0
0 – 0 – 0 + 0 -
0 – 0 + 0 – 0 -
- 0 + 0 + – 0 +
+ 0 – 0 – - + 0
0 – 0 -+ 0 – 0+
0 – - 0 + 0 – 0
0 – 0 -+ 0 – +
arah
Sasaran
+  = Tracting (menarik)
0   = netral
  = repulsing
                          - = hambatan
Dengan adanya intervening obstacles (rintangan antara) maka timbul dua proses migrasi yaitu :
1.      Migrasi bertahap
2.      Migrasi langsung

Transit




Origin (asal)

Distrination (sasaran)
c.       Akibat dari migrasi
• Banyak terjadi pertikaian di dalam suatu kota yang banyaknya imigrasi, karena banyaknya orang yang bersuku tidak sama, perbedaan sosial budaya, pola pikiran yang tidak sepaham, adab tutur kata yang tidak sama, dan memandang suatu nilai orang.
• Akan cepatnya terjadi bencana alam, karena apabila imigran datang tentu saja mereka mencari tempat tinggal, maka lahan penghijauan pun menjadi sasaran untuk dibuatnya perumahan sehingga untuk resapan air pun berkurang sehingga akan terjadi bencana alam banjir dan juga wabah penyakit
• Kesehatan menjadi harga yang lebih mahal di dalam kota migrasi karena, semakin banyak imigran yang datang dengan membawa alat kendaraannya dan juga elektronik yang mempunyai radiasi dan polusi pun dimana-mana
• Area perkuburan yang makin sempit dikarenakan lahan yang letaknya seharusnya menjadi area pemakaman justru dibuat mall, jalan raya besar, dan juga fasilitas prasarana lainnya
• Lahan pekerjaan yang sempit karena banyaknya orang yang mau menetap di kota migrasi dengan mencari uang tetapi sudah banyaknya lahan pekerjaan yang diambil orang dan juga peluang bisnis yang area penjualannya sangat sempit

  3 Jenis Struktur Penduduk     
A. Jumlah Penduduk : Urbanisasi, Reurbanisasi, Emigrasi, Imigrasi, Remigrasi, Transmigrasi.
B. Persebaran Penduduk : Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk disuatu wilayah dibandingkan dengan luas wilayahnya yang dihitung jiwa per km kuadrat. Berdasarkan sensus penduduk dan survey penduduk, persebaran penduduk Indonesia antar provinsi yang satu dengan provinsi yang lain tidak merata.
C. Komposisi Penduduk : Merupakan sebuah mata statistik dari statistik kependudukan yang membagi dan membahas masalah kependudukan dari segi umur dan jenis kelamin.

Piramida Penduduk

Piramida Penduduk adalah dua buah diagram batang, pada satu sisi menunjukkan jumlah penduduk laki-laki dan pada sisi lainnya menunjukkan jumlah penduduk perempuan dalam kelompok interval usia penduduk lima tahunan. Penduduk laki-laki biasanya digambarkan di sebelah kiri dan penduduk wanita di sebelah kanan. Grafik dapat menunjukkan jumlah penduduk atau prosentase jumlah penduduk terhadap jumlah penduduk total.
Susunan penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat di gambarkan secara grafis dengan perbedaan atas dan bawah. Gambaran tersebut dinamai piramida penduduk. Dalam piramida ada garis horizontal dan garis vertical, sumbu vertical mengambarkan umur penduduk dari nol sampai  dengan 65 tahun lebih, dengan interval satu tahunan ataupun lima tahunan.
Sumbu Horisontal menggambarkan jumlah penduduk baik secara absolute maupun relative dalam skala tertentu. Pada bagian kiri sumbu vertical digambarkan penduduk laki-laki dan perempuan di sebelah kanan. Tidak seluruh piramida penduduk selalu runcing bagian atas. Untuk Negara maju, susunan penduduk yang digambarkan dalam bentuk piramida penduduk, bagian atas sama besar dengan bagian bawah, bahkan ada beberapa Negara maju dengan grafik piramida penduduk bagian atas lebih besar.
Dengan  piramida penduduk akan dapat diketahui gambaran mengenai :
1. Perbandingan penduduk laki- laki dan perempuan
2. Pendududk kelompok anak- anak, dewasa dan orang tua
3. Jumlah angkatan kerja
4. Jumlah lapangan kerja yang dibutuhkan
5. Angka ketergantungan
6. Rasio laki –laki perempuan
7. Kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan
8. Perkiraan  jumlah kelahiran yang akan datang
Susunan penduduk atas dasar umur dan jenis kelamin, karakteristik penduduk suatu daerah atau Negara dapat diklasifikasi menjadi tiga bentuk piramida penduduk yaitu :
1. Piramida penduduk muda
Piramida penduduk muda (expensive) berbentuk kerucut alasnya lebar dan puncaknya meruncing.
A. Sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda
B. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa penduduk daerah tersebut sedang mengalami pertumbuhan.
C. Tingkat kelahiran dan kematian masih cukup tinggi.
D. Pertumbuhan  penduduknya tinggi
         2. Piramida penduduk dewasa
Bentuk piramida menyerupai persegi empat, bentuk tersebut menggambarkan keadaan penduduk.
A. Jumlah penduduk dalam keadaan stasioner
B. Jumlah kelahiran dan kematian seimbang.
C. Jumlah penduduk relatif tetap
D. Pertumbuhan penduduk rendah
E. Penduduk muda hampir sebanding dengan penduduk tua
         3. Piramida penduduk tua
Bentuk piramidanya menyerupai bentuk nisan, bentuk ini menggambarkan :
A. Jumlah penduduk terus berkurang
B. Angka kelahiran lebih kecil dari angka kematian
C.Sebagian besar penduduk berada pada kelompok usia tua
D.Pertumbuhan penduduk sangat rendah bahkan tidak ada sama sekali.

Tiga pola perubahan penduduk
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9ob1v6nYCLNAMJNL2FvxLq2pQqwcFfMnWp5clGpvViXRI08znELf30-rsPjBNS9aanbQN7afwEjw-we65-OilJPNCB4ajAC_xbDs7wwtEGyRYAeoWiV2atCmBEB-t2ZmLSy2PYIxcw8xH/s400/Piramida+Penduduk.gif


Rasio Ketergantungsn (Depedenncy of Ratio)
Rasio ketergantungan adalah angka yang menunjukan perbandingan jumlah penduduk dengan golongan umur. Batas golongan umur produktif kerja masing-masing daerah/Negara berbeda-beda. Semakin tinggi jumlah penduduk usia muda dan jompo makin besar rasio ketergantungan. Sebagai ukuran rasio ketergantungan adalah sebagai berikut :
DR < 62,33% (baik)
DR > 62,33% (kurang baik)
Penggolongan umur penduduk dalam kelompok produktif sangat berpengaruh dalam lapangan penghidupan produktivitas kerjanya dalam lapangan produksi.
Penggolongan menurut DW Sleumer
0 – 14 gol belom produktif
15 – 19 gol kurang produktif
20 – 54 gol produktif
55 – 64 gol tidak produktif
65 > gol inproduktif
Golongan menurut Sumbang
0 – 15 gol belum produktif
16 – 64 gol produktif
65 > gol kurang produktif
Golongan menurut Widjojo, Pullerd dan John Clark
0 – 14 gol belum produktif
15 – 64 gol produktif
65     gol tidak produktif

Pertumbuhan dan perkembangan Kebudayaan di Indonesia
1. Zaman batu samapai Zaman logam
Upaya menelusuri sejarah peradaban bangsa Indonesia, mulai dari zaman batu sampai zaman logam. Berdasarkan pendapat para ahli prehistoric, zaman batu terbagi lagi dalam :
  • Zaman batu tua (Paleolithikum)
  • Zaman batu muda (Neolithikum)
Alat-alat batu pada zaman batu tua, baik bentuk ataupun peralatan masih kasar, misalnya kapak genggam.
Kapak genggam semacam itu kita kenal dari Eropa, Afrika Asia Tengah, tetapi kapak genggam tidak didapati orang di Asia Tenggara. Berdasarkan para ahli bangsa proto Austronesia, pembawa kebudayaan kapak batu besar mauoun kecil berasal dari Cina Selatan, menyebar ke arah selatan, dan kemudian menyebar ke Sumatra, Jawa, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara sampai Flores, dan Sulawesi.
Bersamaan dengan proses penyebaran kapak, tersebar pula bahasa Proto Austronesia. Dengan itu bahasa aoustronesia sebagai bahasa induk di ASEAN, khususnya Indonesia, dikemudian hari munculah bahasa melayu dan kemudian menjadi bahasa Indonesia sebagi bahsa resmi.
Zaman batu muda (Neolithikum) membawa revolusi dalam kehidupan manusia. Sejalan dengan itu revolusi alat-alat keperluan kehhidupan terjadi. Manusia-manusia zaman batu mulai memiliki kepandaian dalam hal mengecor/mencairkan logam. Oleh karena itu, mereka membuat aneka ragam senjata untuk berburu dan bahkan untuk berperang.
Bangsa proto Austronesia yg masuk semenanjung indo China ke Indonesia itu membawa kebudayaan Dongson, yang diantaranya senjata tajam dan kapak dari perunggu.

Kebudayan Hindu, Budha, dan Islam
1. Kebudayaan Hindu Budha
Pada abad ke-3 dan ke-4 agama Hindu masuk ke Indonesia, khususnya kepulau jawa. Perpaduan dan akulturasi antara kebudayaan setempat dengan kebudayaan.
Hindu yang berasal dari india itu berlangsung luwes dan mantap, sekitar abad ke-5 ajaran Budha masuk ke Indonesia. Khususnya ke Pulau Jawa. Budhisme dikatakan lebih maju dibandingkan dengan Hinduisme.
Walaupun demikian kedua agama itu berkembang di Indonesia secara berdampingan secara damai. Di antara keduanya banyak melahirkan karya-karya seni budaya yang bernilai tinggi dalam segi bangunan/arsitektur, seni pahat, seni ukir, maupun seni sastra, dan kebanyakan berkembang di pulau Jawa.
2. Kebudayaan Islam
Pada abad ke-15 dan ke-16 agama Islam telah dikembangkan di Indonesia, oleh para pemuka-pemuka Islam yang disebut wali Songo, dan titik sentral penyebaranya berada di pulau Jawa. Dan masuknya agama Islam ke pulau Jawa berlangsung secara damai.
Pada abad ke-15 kerajaan maritim Majapahit mulai surut, berkembanglah Negara-negara pantai yang dapat merongsong kekuasaan dan kewibawaan Majapahit yang berpusat pemerintahan di pedalaman. Dalam proses pengembangan Negara-negara tersebut yang dikendalikan oleh pedagang-pedagang kaya dan golongan bangsawan kota-kota pelabuhan, nampaknya telah terpengaruh dan menganut agama Islam.
Agama Islam berkembang pesat di Indonesia dan menjadi agama yang mendapat penganut terbesar d seluruh Indonesia, tak dapat dipungkiri lagi, bahwa kebudayaan Islam memberikan saham yang besar bagi perkembangan kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Alasan mengapa agama Islam berkembang dengan pesat adalah, karena agama Islam tidak membedakan kasta, syarat untuk memeluk agama Islam tidak sulit (yakni hanya mengucapkan dua kalimat syahadat), dan tidak banyak ketentuan yang harus dijalankan.
c. Kebudayaan Barat
Unsur kebudayaan yang juga memberi warna terhadap corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia adalah kebudayaan barat. Awal kebudayaan barat masuk ke negara Indonesia adalah ketika penjajah masuk ke Indonesia, terutama bangsa Belanda. Mulai dari penguasaan dan kekuasaan perusahaan dagang, berlanjut dengan pemerintahan kolonialis Belanda. Dalam kurun waktu itu juga, di kota-kota pusat pemerintahan beerkembang dua lapis sosial.
  1. Lapisan sosial yang terdiri dari kaum buruh
  2. Lapisan sosial kaum pegawai
Dalam lapisan sosial kedua inilah pendidikan barat mulai di berlakukan di berbagai  sekolah-sekolah, sehingga menjadi syarat utama untuk mencapai kenaikan kelas.
Akhirnya masih disebut sebagai pengaruh budaya barat yang masuk ke dalam Indonesia, ialah agama katholik dan agam Kristen Protestan. Penyebaran ini dilakukan di daerah-daerah yang belum pernah mengalami pengaruh agama Hindu, Budha atau Islam. Karena sudah menjadi watak kepribadian orang timur umunya, bahwa menerima setiap kebudayaan yang datang dari luar, kebudayaan yang dimilikinya tidaklah diabaikan. Tetapi disesuaikan kebudayaan yang baru dengan kebudayaan lama.
Sehubungan dengan itu, penjelasan UUD ’45 memberikan rumusan tentang kebudayaan memberikan rumusan tentang kebudayaan bangsa Indonesia adalah kebudayaan yang timbul  sebagai buah usaha budi rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Lebih lanjut, dalam penjelasan UUD ’45 itu juga ditunjukkan kearah mana kebudayaan itu diarahkan, yaitu menuju kearah kemajuan adab budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaab bangsa sendiri, serte mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Namun itu belum sepenuhnya diterima merata sebagai pemilik nasional. Lebih jauh dikatakan bahwa kebudayaan modern sekarang yang berpangkal pada ilmu, ekonomi, dan kemajuan teknologi dengan ciri otonominya, juga goncang, sehingga merendahkan martabat umat manusia.
Dalam keadaan rawan seperti ini sesungguhnya sangat manguntungkan bagi pembangunan kebudayaan Indonesia, yakni dengan Falsafah Pancasila. Pancasila sebagai rumusan kepercayan kepada realitas, sesungguhnya sejalan dengan rumusan humanism baru yang tumbuh menjadi hasrat umum zaman mutakhir.
Kebudayaan dan Kepribadian
Berbagai Antropologi budaya menunjukan bahwa terdapat korelasi di antara corak-corak kebudayaan dengan corak-corak kepribadian anggota-anggota masyarakat, secara garis besar. Kebudayaan suatu bangsa adalah cermin kepribadian bangsa yang bersangkutan.
Setiap masyarakat memiliki sistem nilai dan sistem kaidah sebagai konkretisasi, nilai dan kaidah berisikan harapan masyarakat, perihal perilaku yang pantas. Sebaliknya segala yang berbeda dari corak kebudayaan mereka dianggap rendah, aneh, kurang sopan, bertentangan dengan kodrat alam, dan sebagainya.
Sebagai contoh di Indonesia pada umumnya, apabila seseorang hamil dan tidak memiliki suami, ia adalah profil seorang yang telah melanggar adat atau kebiasaan suatu keluarga, masyarakat dan bangsa pada umumnya. Sebab ia melanggar secara langsung atau tidak, lingkungan masyarakat di mana ia berdomisili akan memberikan sanksi atas perbuatannya. Akan tetapi jika kasus ini terjadi di Negara barat umumnya mungkin dianggap biasa saja, karena tata budaya dan kepribadian yang sudah ada dan menjadi adat atau kebiasaan dari daerah atau bangsa masing-masing.
Sifat-sifat kepribadian yang berakar dari adat istiadat dan ajaran agama pada suatu kelompok masyarakat dapat dilakukan sebagai hukum adat. Di luar itu, ciri-ciri kepribadian suatu kelompok masyarakat atau bangsa, juga tercermin dalam penampilan sikap hidup sehari-hari.
Namun tak hanya kesan negative yang timbul dari kebudayaan barat, ada pula kesan positif yang dicerminkan para turis yang berkunjung ke Indonesia. Ciri khas kepribadian suatu bangsa dalam bentuk lain dapat diamati dalam macam ragam karya budayanya. Seperti karya budaya/karya seni tari, seni pahat/seni ukir, seni sastra, seni bangunan, atau dalam bentuk ragam pakaian adat, berbagai ragam budaya dari ke bhinekaan suku-suku bangsanya.
Kepribadian bangsa Indonesia yang ramah tamah, suka  menolong, memiliki sifat gotong royong adalah ciri umum dari sekian banyak kepribadian suku-suku bangsa yang berada di Republik Indonesia, dan terpatri dalam ciri khas kepribadian bangsa  Indonesia.

Sumber :


GHINA MEI ALODIA
1KA33
NPM : 13111045

0 komentar:

Posting Komentar